Banner Iklan Tata

Puisi: Terlalu Sangat Berlalu...

Iklan Bawah Judul
Pernah aku mengingat beberapa janji yang hilang tempatinya;
Kejamnya mimpi yang hilang laksananya.
Masa lalu itu, bukanlah pujian akan lunaknya hatiku.
Masa lalu itu, bukan kenangan yang seharusnya berlalu.

Masa yang hilang dengan perlahan, disita kehendak waktu.
Tidak ada lagi seragam yang bisa aku kenakan, tidak ada.
Terkadang aku berharap masa-masa itu akan selalu berjaya,
Masa-masa itu akan selalu memeluk.

Namun waktu...
Bukan waktu namanya; jika tidak mampu menghimpit sejarah.
Tapi adakah yang mengerti?
Atau mungkin, hanya aku yang tidak pernah mengerti?

Waktu yang menjadikan "subuh" alasan pergantian malam;
"Perpisahan sekolah" alasan pergantian jalan.
Yang tersisa hanyalah malam panjang untuk Si Perenung;
Untuk manusia yang tidak ingin tersingkir.

Berontak, berharap waktu tidak pernah bekerja,
Buram, sepi, dan sulit dimengerti...

Waktu pernah mengajari kita untuk menghargai sesuatu yang baru;
Sesuatu yang datang secara tiba-tiba,
Sesuatu yang tidak kita harapkan kehadirannya.

Lalu kemudian kita menghargai,
Lalu kemudian kita menetap,
Lalu kemudian semuanya diambil kembali...

Waktu yang kasar...
Memaksa kita untuk tidak terlalu menghargai pemberian.
Dan semuanya...
Atau mungkin, akulah yang kasar.

Hari-hari yang berlalu, waktu-waktu yang terus bergerak,
Meninggalkan sesiapapun yang menetap.
Terkadang aku berpikir,
"Mengapa waktu tidak pernah membiarkan kita yang memilih?"

"Mengapa harus dia yang memilih?"

Banyak kisah yang membisu di sana,
Membawa semua yang tertinggal,
Atau mungkin, hanya aku yang tertinggal?
Atau mungkin, hanya aku yang tidak mengerti?

Dan lalu, semuanya kembali berlalu...
Terlalu sangat berlalu...
================================= 
Terlalu Sangat Berlalu...
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi terlalu Sangat Berlalu"

Iklan Bawah Share

Tambahkan Komentar Sembunyikan