Puisi: Kupu-Kupu Kotor

loading...
Terkatakan itu menyetarakan diri dengan zaman.
Padahal engkau yang jauh lebih tau;
Pintu rumahmu telah rusak,
Akibat keras engkau membanting.

Dan aku ???
Aku hanya ingin terlihat PEDULI.
Dan aku ???
Aku hanya ingin terlihat Menghargai.

Wahai engkau pelita hati,
Mengapa tega engkau mengembang,
Berlagak lugu menghormati zaman,
Seolah itu tolak ukur harga dirimu.

Tidakkah engkau menyadari,
Bahwa mata-mata yang menyinggahimu,
Adalah mata yang akan merusak kelopakmu untuk berbunga,
Membungkus keyakinanmu; seperti sedianya engkau membungkus dirimu.

Duhai engkau pengumbar nafsu,
Mengapa tega engkau berhikayat,
Meludahi nama baik keluargamu,
Saudara-saudaramu, dan bahkan negara dan agamamu.

Dan tidakkah engkau menyadari,
Bahwa pintu yang telah dan akan engkau hancurkan itu,
Adalah pintu yang akan selamanya terbuka;
Untuk anak-anak cucumu, suamimu, dan untuk cerminan hidupmu.

Sedih teramat bagiku,
Sumringah tersangat bagimu.

Kupu-kupu kotor bernaung benci;
Aku berharap padamu.
Kupu-kupu kota berpupuk iri;
Aku bersedih untukmu.

Maka jangan engkau melupakan, sejarah yang disimpan kenyataan;
Menjadi patuh bukan berarti tertindas.
Maka jangan engkau melupakan, tempat dari mana engkau berasal,
Karena tempat itu akan selalu menunggumu.


Kilah semua dariku adalah raja,
Kilah semua darimu adalah ratu.
Tapi kerajaan selalu selalu milik Sang Azali.

Kilah semua darimu adalah tiga,
Kilah semua dariku hanyalah satu; setelah tiga itu.
Maka jangan engkau mengharap setara,
Karena engkau lebih tinggi dari setara yang kau harapkan itu.

Merintih...
Engkau bukan kupu-kupu kotor,
Engkau bukan kupu-kupu kotor.
================================= 
Kupu-Kupu Kotor...
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Kupu-Kupu Kotor"