Banner Iklan Tata

Cerita Fiksi: Tapi dia tidak melihat...

Iklan Bawah Judul
Kelas 1 SMA
Saat pelajaran kimia berlangsung, aku duduk di sana... menatap seorang gadis yang aku panggil "sahabat". Aku menatap senyumannya yang sehalus sutra, berharap dia adalah milikku. Tapi dia tidak melihatku dengan cara itu, dan aku tahu itu.

Pelajaran usai, dia berjalan ke arahku dan menyerahkan catatan yang telah dia catat saat pelajaran itu. Dia mengatakan "belajarlah untuk membawa buku ke sekolah" dan dia meletakkan tangannya di pipi kiriku. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya... aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Kelas 2 SMA
Telepon berdering, itu adalah dia. Dia menangis, bergumam, dan bercerita tentang seseorang yang telah mematahkan hatinya. Dia memintaku untuk datang ke alun-alun kota karena dia tidak ingin sendirian di sana. Dan aku selalu datang... aku duduk di sampingnya di depan lautan kota. Aku menatap matanya dengan lembut, berharap dia adalah milikku.

Setelah 2 jam, kami memutuskan untuk pulang. Dia menatapku, mengatakan "terima kasih" dan dia meletakkan tangannya di pipi kiriku. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya... aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Kelas 3 SMA
Tujuh hari sebelum acara perpisahan, dia membuat sebuah janji, katanya jika salah satu dari kami tidak datang dengan seorang pacar, maka kami akan datang bersama pada hari itu. Jadi itulah yang kami lakukan pada acara perpisahan.

Setelah semuanya selesai, aku berdiri di pintu depan rumahnya. Aku menatapnya sambil tersenyum padaku dan aku menatap lurus ke dalam mata kristalnya. Aku ingin dia menjadi milikku, tapi dia tidak menganggapku seperti itu, dan aku tahu itu.

Lalu dia mengatakan padaku "ini adalah hari terbaik dalam hidupku, terima kasih!" dan dia meletakkan tangannya di pipi kiriku. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya... aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Hari Wisuda
Hari berlalu, minggu berlalu, bulan berlalu, tahun berlalu dan tibalah aku pada hari saat dia Wisuda. Aku melihat tubuhnya yang sempurna melayang seperti malaikat di panggung untuk menerima Diploma. Aku ingin dia menjadi milikku, tapi dia tidak melihatku dengan cara seperti itu, dan aku tahu itu.

Sebelum semua orang pulang, dia datang kepadaku dengan baju dan topinya. Dia menangis, aku memeluknya, lalu dia mengangkat kepalanya dari bahuku dan mengatakan, "kau adalah sahabatku, kau adalah sahabatku" dan dia meletakkan tangannya di pipi kiriku. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya... aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Beberapa tahun kemudian...
Gadis itu akan menikah sekarang... aku datang menghadiri pernikahannya. Aku melihat dia berbalut baju pengantin, kehidupan baru, dan menikah dengan seorang pria lain. Aku ingin dia menjadi milikku, tapi dia tidak melihatku dengan cara itu, dan aku tahu itu.

Tapi sebelum aku melangkah pergi, dia datang kepadaku dan mengatakan "kau datang!". Dia melanjutkan "terima kasih" dan seperti biasa, dia meletakkan tangannya di pipi kiriku. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya... aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Hari Pemakaman
Tahun-tahun telah berlalu, aku berdiri kaku dan menatap makam dari seorang gadis yang dulu memanggilku "sahabat". Di rumahnya, kakak perempuannya memberikan aku sebuah cacatan miliknya yang dia tuliskan di waktu SMA.

Isi catatan tersebut:
Aku menatapnya, berharap dia adalah milikku, tapi dia tidak melihatku dengan cara seperti itu, dan aku tahu itu. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi sekedar temannya... aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa.

Aku berharap dia akan mengatakan dia mencintaiku! Aku juga berharap aku bisa mengatakan itu... aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tidak tahu mengapa. Aku memikirkan tentang diriku, aku memikirkan tentang dirinya, aku memikirkan semua itu, dan aku menangis.

"Cerita Cinta Sejati"

Iklan Bawah Share

Tambahkan Komentar Sembunyikan