Banner Iklan Tata

Puisi: Kapan dia datang?

Iklan Bawah Judul
Kapan dia datang?

Lalu engkau melepaskan, setelah engkau mendapatkan.
Lalu engkau merendahkan, setelah engkau meninggikan.
Lalu engkau menghancurkan, setelah engkau memperbaiki.
Dan lalu... adakah yang lebih buruk?

Suatu yang tidak bisa kau mengerti, sesuatu yang juga tidak bisa aku jelaskan.
Mereka menyebutnya hasrat, yang lain menyebutnya rasa.
Beberapa menyebutnya azali, beberapa lagi menyebutnya kodrat.
Dan lalu... adakah yang mengerti?

Maka lihat aku...
Orang yang kau hina karena merusak masa lalumu,
Orang yang kau caci karena menghantui mimpi indahmu,
Orang yang kau benci karena pernah mencintaimu.

Lalu lihat hatiku...
Hati yang kau rebut dariku,
Hati yang terpaksa mencintaimu,
Hati yang berharap untukmu.

Dan beginilah kita pada akhirnya...
Saling menyalahkan dan saling mengharap yang terbaik;
Untuk satu sama lain...
Hingga semua yang tersisa,
Hanyalah penyesalan akan indahnya masa lalu kita.

Merasa diri... lebih baik... dalam mencintai...

Bias angkara yang pernah hidupkan cinta,
Menyembunyikan inti yang pernah diungkit sejarah.
Kita bahkan sama-sama tau, malapetaka akan datang menghargai kita.
Memberi tanda sebuah awal, atau akhir sebuah cerita.

Bernaung di balik umpama-umpama yang kejam,
Mengharamkan kias yang pernah kita halalkan.
Hingga kita lupa, bahwa roda pernah berputar,
Hingga kita lupa, bahwa kita telah menua.

Semua itu bagai rintik pembasah bumi, menghujani perasaan.
Rasa ingin memelukmu, rasa ingin menjauhimu.
Rasa ingin bersamamu, rasa ingin melupakanmu.
Hingga terjadilah cinta... bahan uji rasa.

Dan sekarang, lihat kita...
Dua insan yang mengabdi dalam indahnya masa lalu kita,
Dua insan yang terjerat dalam kehendak-kehendak baru,
Dua insan... yang telah berlalu.

Maka jelaskan pada kita, bahwa kita telah menemukan jawaban,
Tidak akan lagi menyebut ini angkara cinta.
Maka jelaskan pada kita, bahwa dia akan datang,
Seakan dia... benar-benar datang.

Karena dia... belum pernah datang.
================================= 
Puisi: Kapan dia datang?
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Kapan dia datang?"

Iklan Bawah Share

Tambahkan Komentar Sembunyikan