728 x 90
 

Iklan1
Ketika Hati Ingin Berteduh...

Kala itu malam ingin meminang senja;
Sebuah Senyuman Pengetuk Pilu.
Membuatku sadar akan hati yang terlalu lama tanpa penghuni.
Fiksi, begitulah namamu.

Ingin aku bertanya tentang malang,
"Bolehkan aku menemui hatimu?".
Lalu aku menyamun di sudut arti sebuah pantas.
Membuatku sedih untuk mengenang,
Hatiku mati dibunuh sumpah.

Cinta itu pernah menghanyutkan,
Dan aku bukan satu-satunya saksi.
Juga fakta bahwa madu bukanlah yang termanis,
"Bagaimana bisa aku berhenti? Bagaimana bisa memulai?"

Kerangka keras dengan isi tinta buram akan masa lalu,
Sejenak membuatku merasa tidak akan mungkin.
Hingga akhirnya aku kembali tersingkirkan.

Berkilah dengan waktu yang berpura lambat,
Ingin aku berteriak dengan lembut:

"Aku datang untuk memeluk harga dirimu,
Menjaganya hingga engkau merasa bangga.
Menimbang cinta untuk selamanya,
Hingga kita lupa dari mana kita memulainya.
Jangan pernah engkau bersedih,
Karena aku tau rasanya tidak memiliki pilihan;
Aku tau rasanya diasingkan dari impian.
Dan jangan pula engkau bersedih,
Karena sama sepertimu,
Aku juga memiliki hati yang sesak menyimpan ikhlas".

Setiap harinya aku menggulung cinta.
Membuatnya mati untuk sejenak;
Agar aku tau rasanya hidup tanpa memikirkanmu.

Namun gulungan itu kembali mekar;
Bahkan semakin besar setelahnya;
Sebelum aku membunuhnya lagi.

Maka cepatlah datang Wahai Engkau Tempati Takdir;
Karena hatiku, ingin berteduh.
================================= 
Puisi: Ketika Hati Ingin Berteduh...
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Ketika Hati Ingin Berteduh"

Iklan2
 
Top