Kerinduan Ini

Rindu...
Yang membawa langkah kakiku
Menelusuri jejak jejak yang ditinggalkan waktu

Rindu...
Yang membawa diriku
Termangu di ujung jalan rumahmu
Yang telah ditinggalkan bertahun lalu.

Rindu...
Yang membuat jemariku
Menuliskan rangkaian kata untukmu
Yang entah di mana keberadaanmu.

Sungguh kerinduan ini selalu datang dan pergi, tiba tiba menyerbu
Menguarkan segala kenangan-kenangan masa kecil dulu
Betapa polosnya fikiran kanak-kanak aku dan kamu
Bahkan tanpa kusadari bahwa kamu telah tertanam dalam benakku yang paling dalam
Membuatku selalu kembali padamu, pada kerianduanku akan kamu, memutar balik memory aku dan kamu

Biarlah, akupun tak kebetatan karena ketika aku lelah dengan kenyataan
Masih ada satu tempat yang bisa melerai, yakni kenangan tentangmu!
================================= 
Puisi: Kerinduan Ini
Oleh: Thiara Olla
=================================
"Puisi Kerinduan Ini"
Dimana aku, Ibu?

Cinta yang tulus,
Dunia tertawa bersamamu.
Kau diam,
Kemudian tua menjawab.

Masa yang berat,
Surgawi mengawasimu.
Dan tanpamu,
Dimana aku, Ibu?

Langkah yang terang,
Keyakinan berjanji padamu.
Kau jatuh dan bangun,
Kemudian aku telah besar.

Kisah yang manis,
Madu dunia di mulutku,
Tapi tanpamu,
Dimana aku, Ibu?

Kapalmu karam,
Saat mimpiku berlabuh,
Lautan begitu tenang,
Air mata bersembunyi dalam doamu.

Kekuatan yang ter-ambil,
Dari nafasmu yang rapuh.
Karena tanpamu,
Dimana aku, Ibu?
================================= 
Puisi: Dimana aku, Ibu?
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Dimana aku, Ibu?"

Kota Yang Tersakiti

Menarik pandang dari kota yang bersedih
mimpi kosong yang merangkul misteri panjang
menyapa akhir kisah yang semakin memburuk.

Menarik pandang dari kota yang berdiam diri
haluan jerit yang memeluk deretan peristiwa
menyapa janji yang mati karena berharap.

Datar...
Pelan...
Dan selalu sesuai rencana.

Karena sebelum mereka menghancurkan
mereka selalu harus mencintai.
Karena sebelum mereka membinasakan
mereka selalu harus menamai.

Hingga semua yang mengenal
perlahan membenci dan menghilang.
Menyisakan inti menunggu diresapi
kenangan-kenangan yang telah tersakiti.

Tapi mengapa selalu ada sesuatu
yang kita pikir tidak akan pernah terjadi.
Harus datang menghantui
hingga itu benar-benar terjadi.

Hah...

Tempat yang dulunya begitu indah
sebelum mereka mencintai.
Tempat yang dulunya sangat sempurna
sebelum mereka menghancurkan.
================================= 
Puisi: Kota Yang Tersakiti
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Kota Yang Tersakiti"

CINTA

Demi hanya untuk menyelamatkan satu hal,
Kau akan rela merusak banyak hal.
Demi hanya untuk menyimpan satu hal,
Kau akan rela membuang segala hal.

Dan itu tidak akan pernah terasa berat,
Tidak akan pernah...

Demi hanya untuk mengingat satu hal,
Kau akan rela menghapus banyak hal.
Demi hanya menjaga satu hal tetap utuh,
Kau akan rela segala hal lain hancur berantakan.

Dan itu tidak akan pernah terasa sulit,
Karena itu adalah CINTA.
================================= 
Puisi: CINTA
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi CINTA"

Ada apa dengan Cinta?

Apa kau pernah jatuh cinta
pada seorang yang tidak seharusnya,
melawan perasaan
tapi kau tidak pernah bisa?

Jatuh lebih dalam,
berharap itu tidak pernah terjadi,
berusaha sembunyikan
tapi hatimu terus tersakiti?

...Apa kau pernah?

Apa kau pernah melihat cahaya
saat matanya terbuka mengarah padamu,
lalu mengingatkan dirimu
bahwa itu tidak pernah terjadi?

Hal yang juga sering
berubah menjadi tatapan,
tapi kau berkilah dengan dirimu
bahwa kau tidak pernah peduli?

...Apa kau pernah?

Apa kau pernah merasakan isyarat
bahwa kau sedang jatuh cinta,
tapi terus mengatakan
dia hanyalah seorang teman?

Memupuk harap
bahwa itu tidak akan menjadi lebih,
menyimpan kebohongan
dari terjaga karena selalu memimpikannya?

...Apa kau pernah?

Apa kau pernah menangisi persahabatanmu
yang tidak siap menanggung risiko?
Apa kau pernah?
Apa kau pernah?
================================= 
Puisi: Ada Apa Dengan Cinta?
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Ada Apa Dengan Cinta?"

Itu adalah kamu...

Tersesat di sudut labirin hati,
Tiada yang bisa menuntun kembali ke pemikiran.
Dunia sangat luas dari sini,
Tapi aku masih bisa melihat satu...

Dan itu adalah kamu.

Mengambang tanpa bisa mencari langkah,
Tiada yang bisa aku lakukan selain menunggu.
Dunia sangat tinggi dari sini,
Dan semua hanya gelap kecuali satu...

Dan itu adalah kamu.

Maka sekali ini,
Relakan aku meleleh di bibirmu,
Biarkan aku bersembunyi di matamu.

Relakan aku satu kalimat,
Biarkan aku berlutut di matamu,
Biarkan aku melamarmu.

Maukah kau...
Maukah kau menjadi istriku?
================================= 
Puisi: Itu adalah kamu...
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Itu adalah kamu"

Sebuah Kamar

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
"Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!"

Ibuku tertidur dalam tersedu
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
di luar hitungan: Kamar begini
3x4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!
================================= 
Puisi: Sebuah Kamar
Karya: Chairil Anwar
=================================
"Puisi Chairil Anwar Sebuah Kamar"

Pelarian

I

Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa di sini

Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.

Hancur-luluh sepi seketika
Dan paduan dua jiwa.

II

Dalam kelam ke malam
Tertawa-mengiris malam menerimanya
Ini batu baru tercampur dalam gelita
"Mau apa? Rayu dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Atau sungai sunyi?
Turut saja!"

Tak kuasa - terengkam
Ia dicengkam malam.
================================= 
Puisi: Pelarian
Karya: Chairil Anwar
=================================
"Puisi Chairil Anwar: Pelarian"

Ajakan

Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang lengang lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan

Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
================================= 
Puisi: Ajakan
Karya: Chairil Anwar
=================================
"Puisi Chairil Anwar: Ajakan"

Sia-Sia

Penghabisan kali itu kau datang
Membawaku kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: untukmu.

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
================================= 
Puisi: Sia-Sia
Karya: Chairil Anwar
=================================
"Puisi Chairil Anwar: Sia-Sia"

Penghidupan

Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita

Mukul denture selama
Hingga hancur remuk redam
Kurnia Bahagia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindungi, sia-sia dipupuk.
================================= 
Puisi: Penghidupan
Karya: Chairil Anwar
=================================
"Puisi Chairil Anwar: Penghidupan"

Cerita Buat Dien Tamaela

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut.

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan.

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau...

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.
================================= 
Puisi: Cerita Buat Dien Tamaela
Karya: Chairil Anwar
=================================
"Puisi Chairil Anwar Cerita Buat Dien Tamaela"

Kepada Peminta-minta

Baik, baik, aku akan menghadap Dia,
Menyerahkan diri dan segala dosa,
Tapi jangan tentang lagi aku,
Nanti darahku jadi beku.

Jangan lagi kau bercerita,
Sudah tercacar semua di muka,
Nanah meleleh dari muka,
Sambil berjalan kau usap juga.

Bersuara tiap kau melangkah,
Mengerang tiap kau memandang,
Menetes dari suasana kau datang,
Sembarang kau merebah.

Mengganggu dalam mimpiku,
Menghempas aku di bumi keras,
Di bibirku terasa pedas,
Mengaum di telingaku.

Baik, baik, aku akan menghadap Dia,
Menyerahkan diri dan segala dosa,
Tapi jangan tentang lagi aku,
Nanti darahku jadi beku.
================================= 
Puisi: Kepada Peminta-minta
Karya: Chairil Anwar
=================================
"Puisi Chairil Anwar Kepada Peminta-minta"

Engkau yang berkilah seperti angin,
Bertempat kemana pun engkau ingin bertempat.
Dan saat engkau telah lelah,
Selalu ada yang engkau tinggalkan.

Semisal apa yang tertinggalkan di sini;
Sebingkis bayang yang dipeluk hati,
Sepintas harap yang ditata riang,
Dan sebuah gelombang janji yang berteriak semakin keras.

Hanya berpura peduli, aku tidak akan menoleh,
Semampuku berpaling, mencari sisi untuk berpegang...
Dimana langit tidak akan jatuh,
Dimana mimpi tidak akan pernah menunggu.

Engkau berhembus, menunggu raga untuk tidak menua.
Sifat dasar sebuah nyawa, dan akan selamanya membagian.
Begitulah dirimu...
KENANGAN.

Aku akan mengisi hatiku,
Dengan khayalan yang masih aku timang-timang,
Dengan mimpi yang sanggup aku terawang,
Dengan ambisi yang akan aku paksa berkibar.

Huft...

Di sana ada ruang,
Tempat yang masih milikmu;
Semakin sempit setiap harinya,
Karena engkau kian berhembus.

Mengenang kasih...
Engkau pernah memanggilku kasih!
Mengenang sayang...
Engkau pernah memanggilku sayang!

Dan selama engkau berhembus;
Azali selalu menguatkan langkah.
Selama itu pula aku akan memeluk tanya kosong,
Dimana kasih dan sayang itu?

Lalu aku tertawa... hah...

Ada daun yang jatuh, ada ranting yang patah.
Ada warna yang kelam, ada waktu yang terus berjalan.
Untuk apa aku peduli ???

Engkau yang berhembus,
Seolah engkau bukan penyebab.
Begitulah dirimu; dengan semua keistimewaanmu.
Begitulah dirimu; dengan semua keindahanmu.

KENANGAN.
================================= 
Kenangan Yang Berhembus...
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Kenangan Yang Berhembus"

Persetujuan Dengan Bung Karno

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
================================= 
Puisi: Persetujuan Dengan Bung Karno
Karya: Chairil Anwar
=================================
"Puisi Chairil Anwar: Persetujuan Dengan Bung Karno"

Prajurit Jaga Malam

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
Bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!
================================= 
Puisi: Prajurit Jaga Malam
Karya: Chairil Anwar
=================================
"Puisi Chairil Anwar: Prajurit Jaga Malam"